Transparansi penggunaan anggaran Komisi Pemilihan Umum (KPU)
Provinsi Jawa Tengah menjadi sorotan publik. Pemuda Anti Korupsi Nusantara
(PAKN) menilai keterbukaan audit anggaran dinilai belum optimal dan memunculkan
dugaan adanya manipulasi anggaran yang menyeret sejumlah pihak.
PAKN bersama elemen masyarakat sipil menyoroti dugaan
praktik koruptif yang dikaitkan dengan aparatur sipil negara (ASN) di
lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dari Kesbangpol berinisial RW,
seorang Komisioner KPU RI berinisial YS, serta seorang politisi partai
berinisial BGN. Dugaan tersebut disebut terkait penyalahgunaan wewenang dalam
sejumlah proyek bersama oknum pejabat lain.
Ketua PAKN Riswandi Hanta menyatakan pentingnya
keterbukaan pengelolaan anggaran publik.
“Publik berhak tahu bagaimana prosesnya berjalan secara
terbuka dan kredibel. Jika terjadi pengabaian atau penundaan, kepercayaan
publik terhadap reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi akan terkikis,”
ujarnya.
PAKN menilai isu ini tidak hanya berkaitan dengan
pelanggaran administratif ASN, tetapi juga menunjukkan lemahnya pengawasan
internal birokrasi.
“Ini bukan semata persoalan disiplin ASN. Ini indikator
bahwa sistem pengawasan internal belum berjalan maksimal,” tegasnya.
Meski demikian, Riswandi menegaskan bahwa asas praduga tak
bersalah harus tetap dikedepankan.
“Kami menekankan bahwa dugaan bukan berarti vonis. Semua
pihak tetap memiliki hak hukum yang sama. Namun proses penegakan hukumnya harus
transparan dan akuntabel,” imbuhnya.
PAKN mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
Kejaksaan, serta aparat pengawasan internal pemerintah untuk menindaklanjuti
dugaan tersebut secara profesional dan terbuka kepada publik.
Selain mendorong langkah penegakan hukum, PAKN juga meminta
peran aktif masyarakat sipil dan media, dan lembaga independen sangat penting
dalam mengawal proses pengawasan dan tetap dalam koridor hukum.
PAKN menegaskan bahwa penguatan transparansi audit anggaran
KPU dan lembaga publik lainnya penting untuk mencegah potensi penyalahgunaan
keuangan negara di kemudian hari.
Hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak yang disebut dalam dugaan tersebut belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi dari media masih terus dilakukan.

0 Comments