Kierahanews - Makassar – Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Selatan melalui Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) menggelar Dialog Pemuda Akhir Tahun 2025 di Red Corner Cafe, Makassar, Jumat (19/12/2025). Forum ini menjadi wadah kritis bagi pemuda untuk beralih dari sekadar pemberi wacana menjadi aktor perubahan yang produktif.
Ketua Bidang PTKP Badko HMI Sulsel, Muhammad Rafly Tanda, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemuda dan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun provinsi. Menurutnya, ide-ide segar dari kalangan muda harus mampu menembus ruang kebijakan publik agar memberikan dampak nyata.
“Gerakan pemuda harus produktif dan berdampak. Kolaborasi adalah kunci agar ide-ide pemuda tidak berhenti di forum, tapi masuk ke dalam ruang kebijakan,” ujar Rafly dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Sulsel, Fadel Taupan Ansar, yang hadir sebagai narasumber menekankan bahwa pemuda harus membekali diri dengan pemahaman regulasi. Ia menantang mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses perencanaan pembangunan, seperti penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Pemuda harus paham regulasi. Kritik terhadap kebijakan itu penting, tapi harus dibangun dengan argumen yang kuat dan konstruktif,” tegas Fadel. Ia juga menyatakan komitmennya untuk membuka ruang diskusi lebih luas, termasuk pelibatan pemuda dalam penyusunan policy brief.
Dari sisi eksekutif, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) menyambut baik inisiatif ini. Kepala Bidang Pemuda Dispora Sulsel, Jufri, S.Sos., M.M, memaparkan sejumlah program strategis yang telah berjalan, mulai dari pembinaan duta pemuda hingga pertukaran pemuda internasional.
“Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan Badko HMI Sulsel dalam pelatihan dan pengembangan kapasitas pemuda ke depan,” jelas Jufri.
Sementara itu, perspektif akademisi yang disampaikan oleh Ir. Muhammad Farid, Ph.D., menyoroti urgensi pemetaan potensi pemuda di era bonus demografi. Ia menekankan bahwa literasi, soft skill, dan jiwa kewirausahaan adalah pondasi utama agar pemuda Sulsel tidak hanya terfokus pada jalur politik.
“Kita perlu roadmap kegiatan kepemudaan agar pemuda Sulsel benar-benar berdaya secara berkelanjutan. Potensi mereka harus dipetakan sejak dini,” ungkap Farid.
Dialog yang berlangsung dinamis ini menegaskan posisi HMI Sulsel sebagai mitra kritis sekaligus kolaboratif bagi pemerintah. Forum ini diakhiri dengan harapan kolektif agar pemuda Sulawesi Selatan berani mengambil peran strategis dalam panggung pembangunan daerah di masa depan.
Redaksi : Oies

0 Comments